Sanering buat Pupus Harapan
Sanering buat Pupus Harapan
“Saat pembacaan teks proklamasi Bung Karno didampingi ibu Fatmawati. Apakah ustadz tahu siapa yang dampingi pak Hatta saat itu?” tanya ibu Meutia Hatta kepada saya saat bercengkerama usai tausiyah di kediaman Bung Hatta.
3 orang putri Bung Hatta dan seorang menantunya berbincang tentang sosok hebat Bung Hatta sang proklamator kepada saya, dari sisi yang belum pernah saya tahu.
Saya menggeleng, tak bisa menjawab pertanyaan ibu Meutia di atas.
“Saat itu ayah kami belum beristri!” tukasnya.
Saya terperanjat. “Koq bisa?!” saya bertanya.
Beliau janji. Nazar. Tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka!
Allahu Akbar…
“Mulia sekali nazarnya kepada Allah untuk negeri ini” batinku.
Sisi teladan lain yang ku dapat dari bincang tersebut adalah…,
Pernah ekonomi Indonesia tidak baik saat itu. Nilai rupiah terpotong secara signifikan. Dulunya 1000 rupiah, jadi seratus. Dulunya 500, jadi lima puluh. Istilah nya Sanering .
“Ibu kami pernah bercita-cita membeli mesin jahit”tutur Meutia.
Beliau menabung dalam waktu yang lama. Namun saat Sanering terjadi, pupuslah cita-cita itu.
Ibu komplain kepada ayah sambil berkata, “Mengapa ayah tidak beritahu kalau sanering akan terjadi? Aku ini khan istrimu?!”
Jawab Bung Hatta dengan santun, “Ini rahasia negara. Kalau aku beritahu kamu, namanya bukan rahasia lagi”.
Ya Allah, hebatnya Bung Hatta menjaga komitmen untuk diri sendiri dan keluarganya.
Beliau adalah teladan. Teladan hebat dalam keadilan bahkan untuk diri sendiri dan orang-orang yang beliau cintai.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ
“Tetapi jika engkau memutuskan (perkara mereka), maka putuskanlah dengan adil. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.”
QS. Al-Ma’idah[5]:42
Majulah negeriku, Indonesia!
#AllahMencintaimu