Taman Berbunga Jadi Rumah Santri

Taman Berbunga Jadi Rumah Santri

Di sebuah desa di Cisarua, Bogor. Di atas tanah seluas 1,5 ha Hj. Fatimah bercocok tanam.
Tanah miliknya itu 1200 mdpl. Mirip dengan lokasi perkebunan di Eropa yang dingin. Sebab itu, ia tanami berbagai tanaman hias dan bunga indah warna-warni dan harum semerbak. Kesemua bunga tersebut ia impor bibitnya dari Eropa.

Hj. Fatimah berhasil sukses dengan bisnis tanaman hiasnya. Bunga yang ia produksi laris dipesan para pesohor negeri untuk pernikahan, resepsi dan acara resmi kenegaraan. Ia mendulang banyak rupiah saat itu.

Namun apa dikata, krisis moneter tahun 1998 terjadi. Bibit yang ia beli dengan dollar tidak bisa dikejar nilainya dari harga jual yang menggunakan rupiah. Maka usaha bunga hias tersebut tak lagi seindah warnanya.

Produksi menurun, lama-kelamaan kebun tersebut tak berfungsi. Ia kosong tak lagi berpenghuni.

Sekira 20 tahun setelah itu, kebun itu berbunga lagi. Bukan karena tanaman hias yang mekar berbunga… namun karena tanah itu diberikan Hj. Fatimah kepada Allah, Tuhannya.

Tanah tersebut ia wakafkan kepada Yayasan Baitul Maal PLN. Lalu dibuatlah sebuah pesantren tahfizh & entrepreneur bernama Thursina. Di sana ratusan santri dari seluruh provinsi di Indonesia menghafal Al Quran dan belajar menjadi pengusaha.

Kebun tersebut kini lebih berwarna indah. Tidak hanya warnanya, riuh rendah suara santri di sana pun menentramkan jiwa.

Sobat, pergilah ke sana dan dapati suasana jiwa yang begitu damai. Pemandangan yang sejuk dan keramahan santri serta para pengajar di sana akan membuat Anda mengerti bahwa apa yang ditanam Hj. Fatimah kini tidak hanya sebuah taman berbuah bunga warna-warni. Namun kini taman itu sudah menjadi miniatur sebuah taman di surga nanti. Sebab dia sudah abadi, sebagai bekal hidup setelah mati.

#AllahMencintaimu

Kata Usbob Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published.