Adakah Hukum Karma dalam Islam?
Adakah Hukum Karma dalam Islam?
Hukum karma kerap menjadi perbincangan di permukaan publik. Bahkan tidak sedikit orang yang masih penasaran tentang adakah hukum karma dalam Islam atau tidak? Mereka tidak sungkan untuk memperdebatkan hal tersebut karena ingin mendapatkan kebenaran.
Ada juga yang beranggapan bahwa hukum karma dalam Islam itu bersangkutan dengan hal ghaib yang tidak patut dipertanyakan lagi. Persis halnya seperti kasus reinkarnasi. Lantas, bagaimana sesungguhnya kebenaran dari hukum karma dalam ajaran agama Islam?
Hukum Karma dalam Islam
Masih banyak umat Muslim di dunia yang merasa bingung dan mempertanyakan tentang hukum karma. Apakah hukum karma tersebut ada atau justru mengada-ada saja. Seperti apa pandangan hukum karma dalam Islam?
Perlu ditegaskan bahwa sebenarnya tidak dibenarkan untuk mempercayai hukum karma atau sebab akibat. Hal tersebut dianggap sebagai menebak hal-hal ghaib yang ada di dunia saja. Misalnya, ketika seseorang tengah sakit parah, banyak yang beranggapan bahwa mungkin ini adalah karma yang ia tuai.
Dulunya bisa saja ia melakukan berbagai macam perbuatan buruk sehingga menuai karma saat ini. Nah, hal-hal seperti inilah yang sering dikira hukum karma atau sebab akibat. Sebagai seorang muslim, tidak dianjurkan untuk mempercayai hal ini.
Sakit yang seseorang alami adalah bagian dari ujian Allah SWT. Sakit adalah penggugur dosa yang jika ia berhasil melaluinya dengan ikhlas, maka akan diberikan ganjaran yang luar biasa gemilang. Sungguh Allah SWT adalah Sang Maha Mengetahui.
Pendapat Ulama Tentang Adakah Hukum Karma dalam Islam
Ada sejumlah ulama atau ahli agama yang ikut menjelaskan tentang hukum karma dalam ajaran agama Islam. Mayoritas memberikan opini bahwa hukum karma dalam Islam tidak benar adanya. Beberapa pendapat tersebut, diantaranya:
1.Buya Yahya
Menurut Buya Yahya karma tidak ada di dalam ajaran agama Islam. Karma hanya ada pada ajaran Hindu dan Budha saja. Jadi, perlu ditegaskan bahwa hukum karma tidak ada dalam Islam. Alih-alih hukum karma, di dalam Islam ada pernyataan yang jauh lebih logis.
Ketika ada seseorang yang dzalim, maka ia akan memperoleh balasan dan hukuman dari Allah SWT. Sebab, saat mempercayai tentang karma maka akan berkaitan dengan reinkarnasi dan hal-hal lain yang dirasa tidak masuk akal.
2. Wasekjen MUI
Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amirsyah Tambunan, menegaskan Islam tidak mengenal istilah kualat atau hukum karma. Istilah hukum karma hanya dikenal dalam ajaran Buddha.
Ia menegaskan, perbuatan apa pun yang dilakukan seorang umat kepada orang lain, sebetulnya hal itu pula yang diberlakukan kepada dirinya sendiri. Hal ini berlaku baik untuk hal baik maupun yang buruk.
Dalam Alquran surat Al-Isra ayat 7 disebutkan, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.”
“Islam adalah agama yang jelas, seimbang antara dunia dan akhirat. Bahwa di dunia ini, akan ada balasannya dari perbuatan yang dilakukan, begitu pula di akhirat,” kata dia.
Pun saat mendengar sebuah berita kematian, Amirsyah menyebut Islam mengajarkan berdoa dan berharap agar yang meninggal dalam keadaan yang baik. Perihal kematian, merupakan ketentuan Allah SWT.
Orang yang meninggal, dalam Islam selalu didoakan dalam keadaan yang husnul khotimah. Merujuk pada QS Ali-imran ayat 102, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”