Kebaikan 40 Tahun Terbalas

Kebaikan 40 Tahun Terbalas

“Abi tahu gak kalau direktur Yamaha sampai jual motor untuk gaji karyawan nya?” tanya Azka, putra bungsu saya. 12 tahun, usianya.

“Gak tahu tuh… apa karena pandemi?!” tanya saya balik kepadanya.

“Wah abi gak tahu ternyata….! Ya, iyalah… khan direktur yamaha motor Indonesia tugasnya adalah jualan motor. Terus ngapain kalau gak jualan?!” sahutnya sambil terkekeh.

“Wah kalah set nih aku sama Azka”, batinku.

Tapi aku ingin beritahu Azka fakta ini, juga semua pembaca yang mungkin belum tahu tentang fakta direktur yamaha motor Indonesia.

Siang itu, saya hadiri undangan. Pernikahan seorang cucu dari H. Abdul Muthalib. Sosok yang belum lama saya kenal. 2 tahun belakangan kurang-lebih. Saya memanggil beliau datuk Thalib.

Beliau wakafkan tanahnya lebih dari 5000 m² di tengah kota Jambi. Untuk dibangun mahad Askar Kauny. Mahad gratis buat penghafal Al Quran.

Datuk Thalib menyambut saya ketika acara persepsi pernikahan cucu nya di Jakarta.

Lalu ia kenalkan saya dengan pria berjas dan dasi merah.

“Ini anak saya… anak angkat saya”, datuk jelaskan singkat.

“Nama saya Dyon pak ustadz…” beliau perkenalkan diri.

Saya pun menyalami nya.

Pak Dyon jelaskan bahwa dirinya dulu orang susah. Namun orang tua saya berkeinginan agar saya sekolah tinggi ke Jawa. Dan saya bisa kuliah di ITB karena pertolongan datuk Thalib.

Jika tidak ada bantuan pak Thalib, besar kemungkinan nasib saya tidak bisa seperti ini” jelas Dyon.

Takdir Allah berubah. Roda kehidupan berputar ke atas bagi Dyon. Setelah berkarir sekian lama, akhirnya ia menjadi Executive Vice President di Yamaha Indonesia Motor Manufacturing.

Kejadian lebih dari 40 tahun lalu, kini berbuah manis. Kebaikan berbalas kebaikan. Dulunya zero kini jadi hero.

Dan yang saya kagum dengan datuk Thalib adalah, beliau amat percaya dengan kebaikan yang beliau tanam.

Di usia nya yang lebih dari 80 tahun, beliau masih percaya bahwa santri yatim dhuafa penghafal Al Quran kelak akan membawa kebaikan bagi diri dan keluarganya.

In sya Allah ada di antara santri-santri tersebut yang kelak akan menjadi Dyon lain yang memiliki prestasi gemilang, di dunia dan akhirat.

Mohon doakan datuk Thalib ya, sobat!

وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ

dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu

-Surat Al-Qashash, Ayat 77

#AllahMencintaimu

Kata Usbob Lainnya

Mata Buta Seorang Ayah

Mata Buta Seorang Ayah

Di Askar Kauny ada 2 orang unik. Usbob & Usbib. Mirip Upin & Ipin. Usbib, adalah ustadz Habiburrahim. Beliau saudara yang saya cinta karena Allah.

Sama pernah menuntut ilmu di Al Azhar, Cairo. Satu asrama. Satu perjuangan. Kami bersama-sama dalam membuat sanggar terjemah bahasa Arab, Kuwais namanya. Lalu menemukan formula KQM, Menghafal Al Quran Semudah Tersenyum. Menggelar pelatihan ToT 1000 Muallim Al Quran. Mendirikan yayasan Askar Kauny, dan banyak lagi.

Intinya, beliau setia dampingi saya. Saya mencintai beliau karena Allah Ta’ala dan semoga ini berlangsung abadi. Mohon doakan….

Usbib, menikah beberapa belas tahun lalu berangkat dari rumah saya. Keluarga nya adalah keluarga kami. Demikian juga sebaliknya.

Namun setelah beberapa tahun bersahabat, saya diajak Usbib singgah di rumah orang tuanya di Jember, Jawa Timur.

Saya berbincang dengan kedua orang tua Usbib. Setelah lama ngobrol, baru saya sadari bahwa ayahnya Usbib tidak hadir ketika anaknya menikah di Jakarta. Saya tanya apa gerangan?

Ayah Usbib berujar, “Saat itu saya buta!”

“Mengapa sekarang koq bisa melihat jelas?” Aku bertanya penasaran.

Beliau jelaskan bahwa pandangan mata awalnya lamur. Lama-lama menjadi gelap. Dan akhirnya buta.

Pengobatan medis berbagai cara sudah ditempuh. Namun tetap saja mata tak bisa melihat.
Setelah hampir pupus harapan ikhtiar penyembuhan, ada seorang sahabat yang menyarankan untuk perbanyak shaum. Puasa!

Saran itu dijalankan. Awalnya puasa senin-kamis. Mulai enak terasa di badan meningkat ke shaum sunnah Daud. Lalu akhirnya shaum dahr. Puasa terus menerus sepanjang tahun. Kecuali hari-hari haram yang lima.

“Badan makin terasa enak, dan pandangan mulai terang, ” ujarnya.

“Atas izin Allah, mata saya bisa kembali melihat seperti semula”, sambung nya.

Allahu Akbar…

Saya terperanjat. Kagum, tak bisa bicara.

Dahsyat sekali pertolongan Allah kepada hamba yang hampir putus asa.

Rupanya taqarrub kepada Allah dengan amal wajib dan perbanyak amal sunnah akan datangkan pertolongan yang sempurna.

Termasuk juga kesembuhan penyakit yang diderita.

#AllahMencintaimu

Kata Usbob Lainnya

IBU GAK PUNYA DUIT, NAK!

IBU GAK PUNYA DUIT, NAK!

Kalimat ini begitu sering terdengar oleh telinga kita, saat kita masih kecil dan sering merengek untuk dibelikan sesuatu oleh ibu.
Mungkin juga kita yang kini sudah menjadi orang tua sering menuturkannya, saat anak mengiba dengan wajah memelas dan tiada daya bagi kita untuk meluluskan keinginannya karena memang benar kita gak punya duit.
Sebagai orang tua tentu kita ingin memberi. Memberi apa saja yang anak inginkan, apalagi bila kita tahu bahwa apa yang diinginkan adalah hal bermanfaat untuknya.

Kalimat itulah yang diucapkan oleh Kasinem, seorang ibu berusia lebih dari 40 tahun, kepada anaknya yang memilih kuliah di Universitas Indonesia, Depok.
Dalam keterbatasan penghasilan yang ia dapatkan sebagai seorang cleaning service di sebuah rumah sakit Jakarta, ditambah hidup tanpa suami, itu semua tidak membuat Kasinem menjadi ‘melempem’. Ia begitu yakin bahwa Allah Swt. menjamin kehidupan setiap hamba-Nya.
Buktinya kini ia dikaruniai seorang anak bernama Bagas yang cerdas dan lulus UMPTN pada dua universitas pilihannya. Yang pertama di STAN dan kedua pada fakultas teknik Universitas Indonesia.

Kelanjutan kisahnya ada di link berikut:
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=451322159712075&id=100045028846718

#Allah Mencintaimu

Kata Usbob Lainnya

FLU ARAB

FLU ARAB

Kusuma adalah seorang pebisnis sukses yang kini berusaha menjalani hidup dalam keridhaan Allah Swt. Ia begitu khusyuk dalam beribadah, dan membagi hidupnya pada porsi yang seimbang antara dunia dan akhirat.
Pada perjalanan di atas pesawat dari Jakarta menuju Jeddah, Allah Swt. berkehendak mendudukkan kami di dua kursi bersebelahan. Sembilan jam perjalanan, banyak obrolan yang kami bincangkan salah satunya adalah penuturan Kusuma berikut ini:
“Pernah dalam ibadah haji yang sebelumnya saya lakukan,” buka Kusuma memulai kisahnya. Ia kisahkan bahwa ia menggunakan travel yang paling mewah di Indonesia. Layanan travel di Indonesia memang agak unik, seharusnya orang bila bayar lebih mahal tentunya akan lebih lama tinggalnya di Tanah Suci. Tapi kok semakin mahal biaya ONH (Ongkos Naik Haji), malah lebih cepat pulangnya. Datang belakangan, pulang duluan, begitulah travel ONH Plus di Indonesia. Dan masa tinggal di dua kota suci Mekah dan Madinah bisa dihitung dengan jari saja.

Kusuma menyampaikan bahwa pada haji kali itu yang dilakukannya, ia terkena penyakit flu. Namun flu ini bukan flu biasa seperti yang diderita oleh kebanyakan orang. Flu ini adalah FLU ARAB!

Kelanjutannya ada dlm link berikut:
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=451886259655665&id=100045028846718

#AllahMencintaimu

Kata Usbob Lainnya

Taman Berbunga Jadi Rumah Santri

Taman Berbunga Jadi Rumah Santri

Di sebuah desa di Cisarua, Bogor. Di atas tanah seluas 1,5 ha Hj. Fatimah bercocok tanam.
Tanah miliknya itu 1200 mdpl. Mirip dengan lokasi perkebunan di Eropa yang dingin. Sebab itu, ia tanami berbagai tanaman hias dan bunga indah warna-warni dan harum semerbak. Kesemua bunga tersebut ia impor bibitnya dari Eropa.

Hj. Fatimah berhasil sukses dengan bisnis tanaman hiasnya. Bunga yang ia produksi laris dipesan para pesohor negeri untuk pernikahan, resepsi dan acara resmi kenegaraan. Ia mendulang banyak rupiah saat itu.

Namun apa dikata, krisis moneter tahun 1998 terjadi. Bibit yang ia beli dengan dollar tidak bisa dikejar nilainya dari harga jual yang menggunakan rupiah. Maka usaha bunga hias tersebut tak lagi seindah warnanya.

Produksi menurun, lama-kelamaan kebun tersebut tak berfungsi. Ia kosong tak lagi berpenghuni.

Sekira 20 tahun setelah itu, kebun itu berbunga lagi. Bukan karena tanaman hias yang mekar berbunga… namun karena tanah itu diberikan Hj. Fatimah kepada Allah, Tuhannya.

Tanah tersebut ia wakafkan kepada Yayasan Baitul Maal PLN. Lalu dibuatlah sebuah pesantren tahfizh & entrepreneur bernama Thursina. Di sana ratusan santri dari seluruh provinsi di Indonesia menghafal Al Quran dan belajar menjadi pengusaha.

Kebun tersebut kini lebih berwarna indah. Tidak hanya warnanya, riuh rendah suara santri di sana pun menentramkan jiwa.

Sobat, pergilah ke sana dan dapati suasana jiwa yang begitu damai. Pemandangan yang sejuk dan keramahan santri serta para pengajar di sana akan membuat Anda mengerti bahwa apa yang ditanam Hj. Fatimah kini tidak hanya sebuah taman berbuah bunga warna-warni. Namun kini taman itu sudah menjadi miniatur sebuah taman di surga nanti. Sebab dia sudah abadi, sebagai bekal hidup setelah mati.

#AllahMencintaimu

Kata Usbob Lainnya

Sanering buat Pupus Harapan

Sanering buat Pupus Harapan

“Saat pembacaan teks proklamasi Bung Karno didampingi ibu Fatmawati. Apakah ustadz tahu siapa yang dampingi pak Hatta saat itu?” tanya ibu Meutia Hatta kepada saya saat bercengkerama usai tausiyah di kediaman Bung Hatta.

3 orang putri Bung Hatta dan seorang menantunya berbincang tentang sosok hebat Bung Hatta sang proklamator kepada saya, dari sisi yang belum pernah saya tahu.

Saya menggeleng, tak bisa menjawab pertanyaan ibu Meutia di atas.

“Saat itu ayah kami belum beristri!” tukasnya.

Saya terperanjat. “Koq bisa?!” saya bertanya.

Beliau janji. Nazar. Tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka!

Allahu Akbar…

“Mulia sekali nazarnya kepada Allah untuk negeri ini” batinku.

Sisi teladan lain yang ku dapat dari bincang tersebut adalah…,

Pernah ekonomi Indonesia tidak baik saat itu. Nilai rupiah terpotong secara signifikan. Dulunya 1000 rupiah, jadi seratus. Dulunya 500, jadi lima puluh. Istilah nya Sanering .

“Ibu kami pernah bercita-cita membeli mesin jahit”tutur Meutia.

Beliau menabung dalam waktu yang lama. Namun saat Sanering terjadi, pupuslah cita-cita itu.

Ibu komplain kepada ayah sambil berkata, “Mengapa ayah tidak beritahu kalau sanering akan terjadi? Aku ini khan istrimu?!”

Jawab Bung Hatta dengan santun, “Ini rahasia negara. Kalau aku beritahu kamu, namanya bukan rahasia lagi”.

Ya Allah, hebatnya Bung Hatta menjaga komitmen untuk diri sendiri dan keluarganya.

Beliau adalah teladan. Teladan hebat dalam keadilan bahkan untuk diri sendiri dan orang-orang yang beliau cintai.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

“Tetapi jika engkau memutuskan (perkara mereka), maka putuskanlah dengan adil. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.”
QS. Al-Ma’idah[5]:42

Majulah negeriku, Indonesia!

#AllahMencintaimu

Kata Usbob Lainnya

Peluk Cium Mama

Peluk Cium Mama

Dudi, sahabatku. Ia seorang kakek. Sudah dikaruniai beberapa cucu. Alangkah berkah hidupnya.

Ia berusia 65 tahun, namun ia masih punya keramat hidup, seorang mama. 87 tahun usianya.

Kerennya lagi, Mama bersedia tinggal di rumah. Kerasan, betah!
Setiap mau pergi bekerja, ke kantor atau kemana pun…, Dudi masih bisa bertemu Mama. Memeluknya…, menciumnya.

Sampai titik ini, mungkin ada di antara pembaca yang membatin, “duh… alangkah beruntungnya Dudi”.

Bagi Dudi, Mama adalah prioritas. Segala-galanya.

Mama adalah motivasi, spirit dan sandaran hidup.

=

Gelombang kedua pandemi covid kemarin, qadarullah Mama tertular.

ICU penuh. Rumah sakit sulit didapat. Namun atas izin Allah, akhirnya Mama dirawat.

Lebih dari sepekan Mama di sana. Sendirian. Tak ada yang bisa mengawal.

Usia Mama yang lanjut membuat Dudi tidak bisa berkomunikasi dengan nya. Mama gak bisa telpon, apalagi WA. “Hidup saya uring-uringan” tukasnya.

Tak bisa membayangkan bagaimana Mama di sana.

Setelah agak baikan Mama boleh dibawa pulang. Meskipun masih positif covid, namun boleh karantina di rumah.

Dudi menyambut Mama dari rumah sakit. Dan seketika, ia lemas mendapati Mama.

“Semua makanan yang Kami kirim ke rumah sakit tidak ada yang beliau makan. Pakaian yang beliau pakai saat datang ke rumah sakit, pakaian itu juga yang ia kenakan. Tatapan Mama kosong. Tubuhnya kurus dan bergetar. Beberapa kali beliau bertanya aku dimana sekarang? Beliau linglung…, khawatir…, ketakutan…” Dudi menjelaskan.

Dudi menyesal. Menyesal sejadi-jadinya tidak berada di sana dampingi Mama. Ia berupaya keras merawat Mama semampunya.

Dan Alhamdulillah, Mama kini sehat wal afiat dan mau tinggal di rumah sekarang.

Kini Dudi menikmati hari-harinya. Bercengkerama bersama Mama setiap saat. Memeluk dan menciumnya…!

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.””
QS. Al-Isra'[17]:24

Ayo sayangi Mama …. !

#AllahMencintaimu

Kata Usbob Lainnya

Money Politic di Masjid

Money Politic di Masjid

Kala itu musim pilkada. Tercium ada money politic oleh media. Dibagikan usai sholat Jumat di masjid At Tohiriyah, Empang, Bogor.

Namun warga sekitar tersenyum membacanya. Itu bukan money politic. Itu adalah amal rutin sosok mulia bernama Allahyarham, Haji Abdul Kadir Askar.

Usai sholat Jumat, beliau berdiri membagikan sedekah kepada fuqara wa masakin yang jumlahnya ratusan orang.

Dan… itu sudah beliau lakukan sejak lama, hanya Allah Yang Tahu.

Beliau gemar bersedekah. Murah tangan untuk berbagi.

Bahkan mahad pertama tahfizh Askar Kauny adalah wakaf beliau di Cijulang, Bogor. Dan kini sudah berdiri 60-an mahad tahfizh dgn ribuan santri, dan semuanya GRATIS. Di bawah yayasan Askar & Askar Kauny.

Ia ajarkan keluarga & keturunannya untuk gemar berbagi kepada fuqara dan muliakan ahlul Quran.

Kembali ke kegemaran Abi Abdul Kadir Askar dalam sedekah setiap Jumat, beliau siapkan sendiri uangnya. Beliau sisihkan dari rezekinya, dan beliau juga yang membagikan.

Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذَهِ اْلأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا: بِدَعْوَتِهِمْ، وَصَلاَتِهِمْ، وَإِخْلاَصِهِمْ.

“Sesungguhnya Allah menolong ummat ini dengan sebab orang-orang lemah mereka di antara mereka, yaitu dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka” HR. An Nasai

=

Pernah saya coba untuk menyelinap dalam barisan sedekah. Berdiri mengantri bersama para fuqara. Saya simak raut wajah beliau dari kejauhan. Begitu teduh dan bersinar. Tersirat bahagia bisa berbagi rasa dengan mereka.

Saat tiba giliran saya ada di hadapannya, beliau menjulurkan uang ke arah saya. Lalu saya tatap wajah beliau, dan beliau pun bertakbir, “ALLAHU AKBAR!”

Beliau urung memberikan uang. Bahkan beliau peluk saya erat.

“Ustadz ngapain di sini…?” tanya beliau.

Saya jawab bahwa saya ingin buktikan amalan mulia Abi Abdul Kadir bukanlah money politic.

Beliau senang dan meminta saya berdiri di sisi nya untuk menyalami para dhuafa.

Hati saya bergetar melihat amal mulia ini. Begitu indah, Allah ilhami beliau untuk melakukannya.

“Tidak semua orang bisa istiqomah mengerjakan amal seperti itu” gumamku.

Saya iri kepada mu, Abi. Semoga Allah menyayangimu.

#AllahMencintaimu

Kata Usbob Lainnya

Sekepal Beras di Awal Pagi

Sekepal Beras di Awal Pagi

Ingin menambah keberkahan pagi, sobat?
Bukalah pintu dan jendela rumah mu. Hiruplah kesegaran udara. Dingin nya…, lembutnya…, membasuh raga.

Di Condet, timur Jakarta ada pria bernama Husin. Setiap pagi rumahnya ramai dengan kicau merdu burung. Bersautan riuh rendah suaranya. Menambah indah dan berkah pagi.

Burung-burung bersuara indah itu bukan miliknya. Juga bukan peliharaan nya. Terus punya siapa?!

Husin mengaku bahwa ia belajar dari abah. Bapak yang mendidiknya untuk selalu berbagi kepada siapapun. Termasuk kepada burung-burung.

Tutur Husin, “Setiap pagi saya keluar teras membawa sekepal beras. Saya tebarkan dan burung-burung datang berhamburan.

Mereka seolah bernyanyi, tertawa, bercanda di rumah menghiasi hari. Tanpa perlu dipelihara di kandang atau aviary.”

Awal pagi selalu indah di rumah Husin sebab berbagi.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَّ امْرَأَةً بَغِيًّا رَأَتْ كَلْبًا فِى يَوْمٍ حَارٍّ يُطِيفُ بِبِئْرٍ قَدْ أَدْلَعَ لِسَانَهُ مِنَ الْعَطَشِ فَنَزَعَتْ لَهُ بِمُوقِهَا فَغُفِرَ لَهَا

“Ada seorang wanita pezina melihat seekor anjing di hari yang panasnya begitu terik. Anjing itu menngelilingi sumur tersebut sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya (lalu menimba air dengannya). Ia pun diampuni karena amalannya tersebut.” (HR. Muslim no. 2245).

Mari berbagi untuk dapatkan ampunan Ilahi.

#AllahMencintaimu

Kata Usbob Lainnya

Aku Tahu Modal Kau

Aku Tahu Modal Kau

Dulu saya pernah nakal. Malu sendiri kalau mengingatnya. Setelah hijrah dan perbaiki diri, mulai saya belajar dakwah.

Gak ada manusia yang sempurna, memang!

Suatu kali, saya sedang isi kajian. Tetiba datang seseorang berbaju merah. Membuat lidah saya kelu, tak bisa lanjutkan ceramah.

Hendri, kawan saat sekolah menengah yang amat tahu betapa nakalnya saya.

Usai kajian, saya hampiri dia. Awalnya ia tak mengenaliku. Lalu akhirnya ia tertawa. “Aku tahu modal kau!” katanya terbahak.

sabda beliau :

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Hal senada juga berlaku dengan Musa & Derry. Kawan serumah saat kuliah di Bogor. Dulu sempat begini-begitu, namun sekarang berubah 180 derajat seiring bertambah umur.

Keduanya saling berlomba dalam kebaikan. Derry banyak menebar amal, Musa pun tak mau tertinggal.

Lama tak jumpa mereka pun dipertemukan Allah dalam sebuah amal. Keduanya jadi sosok inspiratif. Motivasi buat orang sekitar.

Tapi di sela acara saya menikmati keakraban dua saudara seiman ini. Lalu mereka sampaikan kisahnya berdua dulu dan mereka sama berkata, “Aku tahu modal kau!”

Hidayah Mu, ya Allah…!

#AllahMencintaimu

Kata Usbob Lainnya