Muhsaf Alquran

Mushaf Alquran

Istilah mushaf Alquran tentu sudah tidak asing lagi bagi kaum muslim karena sangat identik dengan Alquran itu sendiri yang merupakan kitab suci Agama Islam. Beberapa ulama berpendapat bahwa mushaf tidak harus mencakup seluruh ayat, asal ada ayat Alquran maka sudah termasuk mushaf.

Terkait dengan pembahasan mengenai mushaf, berikut ini adalah ulasan tentang pengertian, sejarah serta susunan mushaf yang perlu diketahui.

Pengertian Mushaf Alquran

Pengertian tentang mushaf yang berhubungan erat dengan Alquran bisa dibedakan menjadi dua, yaitu:

●Pengertian dari Segi Bahasa

Kata mushaf dalam kamus Bahasa Arab bisa diartikan sebagai nama dari kumpulan lembaran yang telah tertulis dan diapit oleh dua sampul.

●Istilah para Ulama

Sementara para ulama memberikan definisi mushaf sebagai nama dari apa saja yang telah dituliskan di atas kalamullah (Alquran) yang ada pada dua sampulnya.

Al-Qalyubi menjelaskan bahwasanya mushaf alquran adalah sebuah kumpulan ayat, namun tidak harus berupa seluruh ayat Alquran. Asalkan di dalamnya ada ayat Alquran walaupun hanya satu hizb saja maka hal itu sudah termasuk mushaf.

Keterangan tersebut bisa ditemukan dalam Kitab Hasyiyatu Al-Qalyubi halaman 35 serta Kitab Hasyiyatu Ad-Dasuqi jilid 1 halaman 125.

Sejarah Mushaf Alquran

Kumpulan lembaran ayat Alquran atau mushaf Alquran dibukukan pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Mushaf tersebut dibakukan penulisannya pada tahun 646 Masehi atau 25 Hijriyah. Mushaf yang ada di masa kekuasaan Utsman bin Affan tidak dilengkapi tanda baca atau tidak berharakat.

Seorang ahli bahasa yang bernama Abu Al-Aswad Ad-Du’ali kemudian merumuskan tanda harakat serta titik untuk menghindari kesalahan membaca atas perintah Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Terkait bacaan Alquran, Hudzaifah bin Yaman mengkhawatirkan adanya pertikaian di kalangan umat Islam. Kekhawatiran tersebut kemudian disampaikan kepada Khalifah Utsman bin Affan untuk mendapatkan penyelesaian.

● Langkah Awal Khalifah Utsman bin Affan

Sebagai langkah awal, Khalifah Utsman bin Affan meminta semua kumpulan naskah Alquran yang masih berserakan di masa pemerintahan Abu Bakar dan disimpan oleh Hafsah binti Umar.

● Khalifah Utsman bin Affan membentuk Tim Khusus

Selanjutnya Khalifah Utsman bin Affan membentuk tim khusus yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit serta beranggotakan Abdullah bin Zubair dan Abdurrahman bin Haris.

Tugas mereka adalah membukukan setiap lembaran yang lepas dengan cara menyalinnya kembali ke dalam sebuah buku atau mushaf. Dalam penulisan ulang, Khalifah Utsman bin Affan meminta agar berpedoman pada mereka yang telah menghafalkan Alquran.

●Al-Mushaf

Salinan dari kumpulan Alquran tersebut dikenal dengan istilah Al-Mushaf dan diperbanyak menjadi 5 buah. Empat mushaf dibawa ke Makkah, Basra, Suriah serta Kufah. Sementara satu naskah lainnya tetap berada di Madinah.

Adanya perbedaan dalam hal pembacaan Alquran memang telah menimbulkan perpecahan di kalangan umat muslim. Khalifah Utsman bin Affan memerintahkan semua gubernur untuk menghancurkan semua mushaf yang ada di masyarakat dan menggantinya dengan mushaf Utsmani.

Sejak saat itu, mushaf Utsmani dengan nukilan yang mutawatir menjadi pegangan seluruh umat muslim sehingga tidak ada perselisihan di dalamnya. Mushaf ini tetap terpelihara hingga hari kiamat atas pemeliharaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mushaf Alquran Madinah

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ketika penyusunan ulang naskah ayat Alquran selesai dilakukan dan disalin hingga 5 buah, maka salah satu mushaf tetap berada di Madinah. Mushaf al quran yang disimpan di Kota Madinah bernama mushaf Al-Imam.

Susunan Mushaf Alquran

Alquran diawali dengan QS. Al-Fatihah sebagai pembuka yang terdiri dari 7 ayat. Mushaf di dalam Alquran diakhiri surah An-Nas yang terdiri dari 6 ayat.

Alquran merupakan kitab suci umat Islam yang di dalamnya terkandung firman Allah Yang Maha Suci. Allah pun telah menjamin dan menjaga Alquran serta memelihara kemurnian Alquran hingga hari kiamat. Wallahu a’lam bishawab.

Oase Hati Lainnya

Metode Membaca Alquran

Metode Membaca Al-Qur’an

Seorang Muslim harus dekat dengan Alquran. Kita dianjurkan untuk banyak membacanya, menghafal, memahami dan yang tak kalah penting mengamalkan.

Membaca Alquran adalah langkah awal dari kedekatan kita dengan Alquran. Lalu bagaimana jika kita sudah berumur namun belum bisa membaca Alquran? Atau saat kita sudah memiliki anak, metode membaca Alquran apa yang paling cocok?

Semangat umat dalam belajar membaca Alquran disambut dengan lahirnya beberapa metode membaca Alquran. Beragamnya metode ini memberikan umat banyak pilihan.

Sebab, buta huruf Alquran di negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia masih memprihatinkan. Kementerian Agama pada 2020 menyebut masih ada 65 persen Muslim di Indonesia yang buta huruf Alquran.

Lewat beragam metode terbaru, kita harapkan umat Islam di Indonesia bisa mengenal kitab sucinya. Kemudian mau memahami dan mengamalkannya.

Lalu apa saja metode membaca Alquran yang kini ramai digunakan di Indonesia? kita simak paparannya satu per satu.

Metode Qiroati

Metode membaca Alquran qiroati termasuk metode yang sudah ada cukup lama. Penyusun metode ini adalah KH Dachlan Salim Zarkasyi pada 1963.

Ciri khas dari metode qiroati adalah membaca tanpa jeda dan tartil. Kemudian standar yang sangat ketat dari satu pelajaran ke pelajaran lain.

Bagi kalangan umum, membaca Alquran dengan metode qiroati seperti membaca huruf hijaiyah dengan cepat, tanpa jeda.

Metode ini muncul karena Kiai Dachlan melihat masih banyak anak-anak yang belajar membaca Alquran tapi mengabaikan tentang tajwid.

Metode qiroati juga menggunakan sertifikasi pengajar yang resmi. Sehingga guru yang mengajar harus mendapatkan sertifikat/syahadah dari guru lain yang telah memiliki sertifikasi.

Metode ini banyak digunakan bagi pengajaraan membaca Alquran di sekolah maupun usia dini. Bukan hanya itu, metode qiroati juga mulai dipakai di beberapa negara seperti Singapura dan Malaysia.

Metode Ummi

Metode kedua yang paling banyak dipakai adalah metode ummi. Diambil dari semangat seorang ibu dalam memberikan pengajaran kepada anaknya.

Metode yang dipakai klasikal. Yang menarik setiap kelas hanya diisi sedikit murid, sekitar 10 orang. Sehingga pengawasan dan pengembangan kepada murid jauh lebih efektif.

Fungsi guru dalam metode ummi sangat vital. Guru dalam metode klasikal bisa memahami kondisi masing-masing siswa. Metode ummi juga mengajarkan kepada siswa bacaan-bacaan yang sulit atau gharib. Sehingga anak didik bisa diajarkan teknik membaca Alquran yang sulit.

Selain membaca Alquran dalam tiga tahun dengan tata kaidah yang benar, siswa juga bisa menghafal Juz Amma. Sehingga selain membaca Alquran dengan kaidah yang baik, murid juga bisa mulai belajar menghafal Alquran.

Metode Iqra

Metode yang cukup banyak diajarkan di Taman Pendidikan Alquran bisa jadi metode iqra.

Tapi siapa sangka, metode iqra adalah metode yang terinspirasi dari metode qiroati.

Metode Iqra dikenalkan oleh KH As’ad Humam pada 1988. Kiai As’ad termasuk salah satu murid KH Dachlan yang melahirkan metode qiroati.

KH As’ad mulai mengenalkan pengembangan dari metode yang terinspirasi dari Qiroati. Metode iqra dikembangkan bersama Team Tadarrus Angkatan Muda Masjid dan Mushalla (AMM) Yogyakarta.

Akhirnya metode Iqra mulai banyak dipakai oleh masyarakat. Salah satu sebabnya, buku metode iqra bisa dijualbelikan bebas. Sementara buku metode qiroati hanya dijual oleh guru yang tersertifikasi dan tidak diperjualbelikan bebas.

Metode an-Nahdliyah

Metode ini dikenalkan di Tulungagung. Metode ini dikembangkan oleh KH Munawir Kholid untuk belajar metode membaca Alquran cepat yang khas NU.

Pengembangan metode ini dibuat oleh tim ulama yang terdiri dari Kiai Munawir Kholid, Kiai Manaf, Kiai Mu’in Arif, Kiai Hamim, Kiai Masruhan, dan Kiai Syamsu Dluha.

Buku ini dibuat 6 jilid dan salah satu ciri khasnya adalah metode dengan menggunakan tongkat. Fungsi dari tongkat ini untuk menjaga irama bacaan sesuai dengan panjang pendeknya huruf.

Oase Hati Lainnya

Kesabaran  ( harusnya ) Tak Berbatas

Kesabaran ( harusnya ) Tak Berbatas

Kesabaran ( harusnya ) Tak Berbatas

Sabar itu ada batasnya!
Begitu kira-kira alasan sebagian orang kalau sedang marah. Mereka akan mencari pembenaran atas amarahnya. Bahwa sudah bersabar sekian lama, menyimpan amarah namun orang tak juga berubah.

Tapi, benarkah kesabaran itu ada batasnya? Coba simak ayat berikut,
“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),” (QS. Ar-Ra’d: 22)

Dari situ kita belajar bahwa kesabaran sejatinya tak berbatas. Kemampuan kita lah yang terbatas. Mari terus tingkatkan ketaatan pada Allah, terutama perbaiki shalat. Insyaa Allah kesabaran kita akan meningkat pesat.

Askar Kauny,
Wariskan Kebaikan

Oase Hati Lainnya

Sering Mendengar Al-Qur’an Sebagai Syafaat di Hari Kiamat? Begini Alasannya

Sering Mendengar Al-Qur’an Sebagai Syafaat di Hari Kiamat? Begini Alasannya

Sering Mendengar Al-Qur’an Sebagai Syafaat di Hari Kiamat? Begini Alasannya

Al-Qur’an adalah mu’jizat agung Nabi Muhammad yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia. Bukan hanya sebagai pedoman yang menjadi penolong di dunia saja namun juga di akhirat.

Dan salah satu janji Allah berupa pertolongan di akhirat adalah syafaat Al-Qur’an, yaitu diperuntukkan untuk siapapun yang di dalam hatinya ada kecintaan kepada Al-Qur’an. Dan wujud cinta kepada Al-Qur’an adalah dengan senantiasa membacanya, menghafalkannya dan mengamalkannya.

Lalu, bagaimana bentuk syafaat Al-Qur’an bagi siapapun yang berpegang teguh dan mencintainya?

“Al-Qur’an memberi syafaat dan dimintai syafaat, dan menjadi saksi yang diyakini (kebenarannya), barangsiapa yang menjadikannya sebagai imam, panutan, pedoman (dengan mengamalkan isi kandungannya) maka ia akan ditarik ke surga, dan barangsiapa yang menjadikannya di belakang punggungnya (meninggalkan isi kandungannya) maka ia akan ditarik ke neraka” (HR. Ibnu Hibban)

Dari hadis di atas, semakin kita yakin betapa Al-Quran adalah cahaya kebenaran yang abadi sinarnya, menerangi jalan hidup hamba hingga menuju tujuan yang di ridhoi Allah ta’ala. Semoga kita termasuk hamba yang selalu cinta Al-Qur’an dan mendapatkan syafaat darinya kelak.

Askar Kauny,
Wariskan Kebaikan

Oase Hati Lainnya

Doa Memohon Pertolongan

Doa Memohon Pertolongan

Doa Memohon Pertolongan

Adakalanya kesedihan menghampiri diri. Atau, keimanan menurun, yang menjadikan diri seolah tak memiliki daya upaya.

Di saat demikian, tentu kita sangat membutuhkan pertolongan Allah. Kita sangat mengharapkan kasih sayang-Nya untuk menenangkan.

Nah, sudah tahukah doanya?
Dari Anas, bahwa jika ada sesuatu yang membuat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersedih, beliau membaca, Ya hayyu ya qayyum birahmatika astaghiits. “Wahai Yang Maha Hidup, wahai Yang Maha Berdiri Sendiri, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Sunni)

Askar Kauny,
Wariskan Kebaikan

Oase Hati Lainnya

Sejauh Mana Sholat Merubahmu, Sejauh Itulah Kualitas Sholatmu

Sejauh Mana Sholat Merubahmu, Sejauh Itulah Kualitas Sholatmu

Sejauh Mana Shalat Merubahmu, Sejauh Itulah Kualitas Sholatmu

Sahabat Kauny, baiknya kualitas sholatmu menentukan kebaikan hidupmu. Maka jika hidupmu penuh kegaduhan segeralah bermuhasabah diri, segala kerusakan yang ada pada dirimu seringkali disebabkan oleh rusaknya kualitas sholat yang tidak menancap dalam hati.

Maka sudah berkualitaskah setiap takbir, rukuk dan sujud kita kepada Allah ta’ala?

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. (Qs. Taha: 14)

Mari mulai perbaiki sholat kita dengan menjaga sholat berjamaah, agar kita merasakan kekhusyukan dan keikhlasan dari setiap gerakan sholat.

Imam Ahmad rahimahullah mengatakan dalam kitabnya Ta’zhimu Qadri Ash Shalah, “Siapa saja yang meremehkan urusan shalat, ia akan didapati menyepelekan Islamnya. Sungguh kualitas Islam seseorang berbanding lurus dengan kualitas shalatnya. Dan loyalitasnya terhadap Islam sesuai kadar loyalnya terhadap shalat”

Askar Kauny,
Wariskan Kebaikan

Oase Hati Lainnya