Metode Membaca Alquran
Metode Membaca Al-Qur’an
Seorang Muslim harus dekat dengan Alquran. Kita dianjurkan untuk banyak membacanya, menghafal, memahami dan yang tak kalah penting mengamalkan.
Membaca Alquran adalah langkah awal dari kedekatan kita dengan Alquran. Lalu bagaimana jika kita sudah berumur namun belum bisa membaca Alquran? Atau saat kita sudah memiliki anak, metode membaca Alquran apa yang paling cocok?
Semangat umat dalam belajar membaca Alquran disambut dengan lahirnya beberapa metode membaca Alquran. Beragamnya metode ini memberikan umat banyak pilihan.
Sebab, buta huruf Alquran di negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia masih memprihatinkan. Kementerian Agama pada 2020 menyebut masih ada 65 persen Muslim di Indonesia yang buta huruf Alquran.
Lewat beragam metode terbaru, kita harapkan umat Islam di Indonesia bisa mengenal kitab sucinya. Kemudian mau memahami dan mengamalkannya.
Lalu apa saja metode membaca Alquran yang kini ramai digunakan di Indonesia? kita simak paparannya satu per satu.
Metode Qiroati
Metode membaca Alquran qiroati termasuk metode yang sudah ada cukup lama. Penyusun metode ini adalah KH Dachlan Salim Zarkasyi pada 1963.
Ciri khas dari metode qiroati adalah membaca tanpa jeda dan tartil. Kemudian standar yang sangat ketat dari satu pelajaran ke pelajaran lain.
Bagi kalangan umum, membaca Alquran dengan metode qiroati seperti membaca huruf hijaiyah dengan cepat, tanpa jeda.
Metode ini muncul karena Kiai Dachlan melihat masih banyak anak-anak yang belajar membaca Alquran tapi mengabaikan tentang tajwid.
Metode qiroati juga menggunakan sertifikasi pengajar yang resmi. Sehingga guru yang mengajar harus mendapatkan sertifikat/syahadah dari guru lain yang telah memiliki sertifikasi.
Metode ini banyak digunakan bagi pengajaraan membaca Alquran di sekolah maupun usia dini. Bukan hanya itu, metode qiroati juga mulai dipakai di beberapa negara seperti Singapura dan Malaysia.
Metode Ummi
Metode kedua yang paling banyak dipakai adalah metode ummi. Diambil dari semangat seorang ibu dalam memberikan pengajaran kepada anaknya.
Metode yang dipakai klasikal. Yang menarik setiap kelas hanya diisi sedikit murid, sekitar 10 orang. Sehingga pengawasan dan pengembangan kepada murid jauh lebih efektif.
Fungsi guru dalam metode ummi sangat vital. Guru dalam metode klasikal bisa memahami kondisi masing-masing siswa. Metode ummi juga mengajarkan kepada siswa bacaan-bacaan yang sulit atau gharib. Sehingga anak didik bisa diajarkan teknik membaca Alquran yang sulit.
Selain membaca Alquran dalam tiga tahun dengan tata kaidah yang benar, siswa juga bisa menghafal Juz Amma. Sehingga selain membaca Alquran dengan kaidah yang baik, murid juga bisa mulai belajar menghafal Alquran.
Metode Iqra
Metode yang cukup banyak diajarkan di Taman Pendidikan Alquran bisa jadi metode iqra.
Tapi siapa sangka, metode iqra adalah metode yang terinspirasi dari metode qiroati.
Metode Iqra dikenalkan oleh KH As’ad Humam pada 1988. Kiai As’ad termasuk salah satu murid KH Dachlan yang melahirkan metode qiroati.
KH As’ad mulai mengenalkan pengembangan dari metode yang terinspirasi dari Qiroati. Metode iqra dikembangkan bersama Team Tadarrus Angkatan Muda Masjid dan Mushalla (AMM) Yogyakarta.
Akhirnya metode Iqra mulai banyak dipakai oleh masyarakat. Salah satu sebabnya, buku metode iqra bisa dijualbelikan bebas. Sementara buku metode qiroati hanya dijual oleh guru yang tersertifikasi dan tidak diperjualbelikan bebas.
Metode an-Nahdliyah
Metode ini dikenalkan di Tulungagung. Metode ini dikembangkan oleh KH Munawir Kholid untuk belajar metode membaca Alquran cepat yang khas NU.
Pengembangan metode ini dibuat oleh tim ulama yang terdiri dari Kiai Munawir Kholid, Kiai Manaf, Kiai Mu’in Arif, Kiai Hamim, Kiai Masruhan, dan Kiai Syamsu Dluha.
Buku ini dibuat 6 jilid dan salah satu ciri khasnya adalah metode dengan menggunakan tongkat. Fungsi dari tongkat ini untuk menjaga irama bacaan sesuai dengan panjang pendeknya huruf.