Rasa Cinta tak Terindra

Rasa Cinta tak Terindra

Tanah seluas 1600 m² disewa oleh Salman untuk buka warung makan. Di sebuah kabupaten di Sumatera Utara.

Warung itu ramai. Lokasinya strategis. 10 tahun sewa dan sukses, membuat Salman berani untuk membelinya.

Warung makin ramai, dan orang-orang pun mulai mengakui kenikmatan masakannya.

Namun Salman berubah. Usai jumpa dengan seorang ustadz bernama Bukhari. Mereka berpapasan motor. Obrolan singkat terjadi. Rencana membuat rumah tahfizh di pojok rumah makan.

Coba punya coba, anak-anak mulai datang mengaji. Awalnya satu dua. Bertambah jadi puluhan. Bahkan kini ratusan.

Warung itu kini jadi rumah tahfizh Al Quran dan sekolah. Salman berubah. Berubah jadi bertambah mulia.

Lain lagi di Jakarta. Seorang pria bernama Dani. Ia pengusaha kuliner dengan cabang 60-an. Omzet hebat, dagangan laris.

Namun awal 2010-an ia ikut dakwah Al Quran. Membantu para yatim dan dhuafa untuk menjadi hafizh. Beda sedikit dengan Salman, Dani kini mengelola 16 ribuan santri tahfizh. Ia dan keluarga mencurahkan perhatian untuk pendidikan tahfizh Al Qur’an.

Salman dan Dani sepertinya meninggalkan bisnis usaha mereka menurut banyak orang. Namun ketenangan hati dan kebahagiaan jiwa tak ada yang mengerti.

Saya yakin mereka berdua dan para pejuang seperti mereka diberi Allah rasa cinta. Rasa cinta tak terindra yang hanya dirasakan oleh mereka saja.

#AllahMencintaimu

Kata Usbob Lainnya

Segulung Uang di Dalam Kantung

Segulung Uang di Dalam Kantung

Tidak seperti liburan sebelum-sebelumnya, dimana saya selalu mellow beberapa hari sebelumnya dan menangis saat melepas para santri pulang ke rumah, liburan kali ini saya sungguh baik-baik saja. Mungkin sudah seringnya merasakan perpisahan, membuat saya menjadi lebih tegar. 😌

Tapi akhirnya saya menangis juga…

Bukan, bukan karena akhirnya menyadari dua pekan ke depan rumah saya akan sepi dari suara syahdu tilawah mereka dan kehilangan gelak tawa mereka, atau kehilangan rutinitas bersama mereka, tapi karena segulungan uang di dalam kantung…

Jadi sehabis Zhuhur, di hari mereka menunggu dijemput orangtua, saya membagikan mereka amplop berisi lembar laporan prestasi mereka selama beberapa bulan di sini, lembar mutaba’ah yang harus mereka isi selama liburan, dan uang tabungan masing-masing yang bervariatif jumlahnya. Ada yang membawa pulang uang kurang dari dua ratus ribu rupiah, ada yang terbanyak lebih dari satu juta rupiah. Mereka menerimanya dengan riang gembira, terutama soal uang tabungan itu yang pasti akan bermanfaat selama mereka liburan nanti.

Setelahnya, saya mengumumkan pada mereka kalau saya mengajak mereka untuk berdonasi bagi korban bencana Semeru. Saya minta seorang santri pengabdian yang paling besar mengedarkan sebuah kantung plastik dan satu persatu mereka memasukkan uang donasi tanpa seorang pun tahu berapa jumlah donasi masing-masing.

Sesudah terkumpul, saya meminta mereka menyaksikan perhitungannya. Uang ditumpahkan ke lantai dan santri yang saya tugaskan menghitung terhenyak ketika mengangkat segulungan uang 50 ribuan dalam jumlah amat banyak. Sementara uang yang lain terserak terpisah-pisah. Ada lembar lima puluh ribuan, ada dua puluh ribuan, sepuluh ribuan dan juga lima ribuan. Saya beri isyarat padanya untuk terus menghitung. Dan total semua donasi adalah 820.000 rupiah.

Kami bersyukur atas jumlah yang cukup lumayan itu, mengingat jumlah santri saya sedikit dan tidak semua dari mereka membawa uang tabungan dalam jumlah banyak.

Sesudah saya menutup acara dan meninggalkan mereka, saya menangis tersedu di kamar. Memandang setumpuk uang sejumlah 820.000 di mana lebih dari separuhnya adalah donasi satu orang saja dari mereka.

Saya tahu siapa dia yang menaruh segulungan uang itu… Saya sungguh tahu walau dia tak memberi gelagat apapun. Andai saya tidak ingin merusak keikhlasannya, tentu saya umumkan nama anak mulia yang pemurah ini. Anak yang dengan ikhlas memberikan separuh tabungannya, yang sudah lama sekali dikumpulkan dan dihemat-hematnya, termasuk dari hasil ia berjualan.

Bukan saya mengecilkan donasi santri lain, mereka juga telah memberikan yang terbaik yang bisa mereka berikan. Tapi karena saya tahu jumlah tabungan santri pemurah ini, maka bagi saya menginfakkan separuh dari satu-satunya harta yang ia punya, ini benar-benar menggetarkan hati saya. Sesuatu yang juga belum tentu saya bisa lakukan…

Duhai Robb, Kaulah Yang Maha Tahu urusan hati. Semoga Engkau jadikan anak ini senantiasa ikhlas atas apa yang sudah ia persembahkan di jalanMu.

Wassalam
MHR

Kata Usbob Lainnya

Pernah Jumpa Entah Dimana

Pernah Jumpa Entah Dimana

Pernahkah engkau mencintai seseorang karena Allah?

Sahabat seiman yang akan membuatmu jatuh cinta kepada Allah. Dia yang bisa membuatmu suka akan ibadah. Mencegah mu berbuat maksiat. Mengingatnya akan memudahkan mu dzikrullah.
Saat kau tergelincir dari jalan lurus, resahnya melebihi sadarmu.

Inilah cinta karena Allah yang diridhoi. Penyelamat di akhirat. Kelak persahabatan seperti ini akan mendatangkan naungan Allah, di hari dimana tidak ada lagi naungan. Hari kiamat!

ورجُلانِ تحابَّا في اللهِ: اجتمَعا عليه وتفرَّقا عليه
Dua orang yang bersahabat karena Allah. Keduanya berkumpul karena Allah. Berpisah pun karena Allah. HR. An Nasai & Ibnu Hibban

Selama 6 hari saya berkeliling Sumatera Utara. Dalam safar penuh berkah. Rombongan kaum mukminin dari Bogor mengunjungi saudaranya di beberapa tempat di sana. Mereka kaum papa, tertinggal dan banyak yang pindah agama.

Medan, Binjai, Siantar, Simalungun, Sinabung, Karo, Prapat dan beberapa daerah lainnya.
Letih, lelah tak terasa. Nikmat barokah menyertai perjalanan.

Selama safar banyak saudara seiman yang belum pernah saya kenal. Namun penyambutan, jamuan dan hidangan mereka, terasa lama kami sudah bersaudara. Entah dimana…

Hingga saat kami diantar sampai ke bandara. Mereka melepas kami dengan pelukan dan haru tangisan . Saya pun menangis dibuatnya.

Rasa damai itu saya bawa dalam doa. Semoga Allah jaga mereka para saudaraku seiman di Sumatera Utara. Sungguh persahabatan yang amat indah bersama kalian.

In sya Allah, kita jumpa lagi suatu saat. Andai Allah tidak berkehendak, semoga kita bisa jumpa lagi di jannah Allah terindah.

Aku mencintaimu karena Allah, sobat!

#AllahMencintaimu

Kata Usbob Lainnya

Rezeki Rumah Miring

Rezeki Rumah Miring

“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” (QS Nuh [71]: 13)

Seorang ibu yang mengaku bernama Dessy datang menghampiri saya usai sebuah pertemuan. “Boleh berbicara sebentar, Pak?!” tanyanya. “Silakan bu…!” jawab saya.

Saat itu saya baru saja berbicara di hadapan sekelompok kaum ibu mengenai kebesaran Allah Swt dan bagaimana Dia Swt menjawab setiap doa hambaNya. Acara sudah usai dan saya tengah istirahat sejenak sambil menikmati hidangan yang disajikan tuan rumah.

Bu Dessy menyampaikan pengalamannya saat saya masih terus mengunyah. Begitu antusias ia menuturkan hingga saya pun mulai pasang telinga.
Ia mengabarkan bahwa ia bersyukur memiliki seorang suami yang amat shalih.

Keshalihan suami itulah yang membuat Dessy mengambil keputusan menikah dengannya, meskipun awalnya Dessy adalah seorang non-muslimah. Setelah beberapa tahun menikah dan dikaruniai dua orang anak, Dessy mendapati bahwa ia merasa tidak cocok dengan agama Islam, bahkan belakangan ia kembali kepada agama semula.

“Saya terus mencoba untuk membuat anak-anak ikut ke agama saya namun rupanya mereka lebih sayang kepada ayah mereka…” tutur Dessy.

Ia melanjutkan bahkan saking kuatnya pengaruh ketaatan beragama suaminya, anak-anak tumbuh menjadi keturunan yang shalih dan kuat berakidah.

Hingga Dessy menuturkan pengalaman dialognya dengan seorang anaknya yang berumur 4 tahun saat itu dan membuat jalan hidup Dessy kembali berubah.
“Kami saat itu sedang asyik bermain ayunan di taman…. Kami tertawa riang dan bercanda…..
Saat kami kelelahan bermain dan beristirahat sambil duduk di taman aku berkata kepada anakku, ‘Nak…, enak sekali ya bermain di taman seperti ini!’ Sang anak pun menjawab, ‘Ya Ma, asyik sekali… Tapi sayang ya kita cuma bisa bermain bersama di sini, tidak di surga.’jawab sang anak.”

“Memangnya mengapa kita tidak bisa main seperti ini di surga nanti?!” tanya Dessy keheranan. Anaknya yang tersayang itu menjawab, “Kita kan semua muslim, sementara mama bukan hamba Allah yang muslimah. Sedang surga hanya Allah berikan kepada hamba yang taat kepadaNya….”

DEGGG….! Hati Dessy tersentak. Ia tidak menyangka bahwa anaknya mampu berpikir sedemikian jauh. Hati Dessy menjadi galau. Matanya kini berkaca-kaca membayangkan bahwa ia tidak bisa berjumpa lagi dengan anaknya di surga nanti.

Namun sejurus kemudian ia malah berpikiran buruk terhadap suaminya. “Ini pasti ulah suamiku!” batin Dessy. Ia menyangka bahwa suaminya pasti telah mendoktrin anaknya sedemikian rupa.

Sore itu sepulang suaminya dari tempat bekerja Dessy menyerangnya habis-habisan. Anehnya meski Dessy berteriak-teriak dengan suara melengking, sang suami malah terlihat begitu tenang dan selalu tersenyum.

Begitu Dessy mereda sang suami memberinya penjelasan dan menyadarkan Dessy untuk kembali ke jalan Allah Swt. Alhamdulillah hati Dessy meluluh. Hidayah Allah Swt kembali lagi menyapanya.

Dessy berniat untuk kembali menjadi muslimah dengan satu syarat bahwa sang suami harus mencarikan seorang guru yang tepat untuk Dessy agar ia yakin dan mantap memeluk agama Islam.
Suami Dessy menerima syarat itu lalu ia mengajak Dessy untuk melakukan shalat Isya berjamaah. Maka Dessy kembali menyembah Allah Swt setelah sekian lama ia meninggalkanNya.

Shalat Isya di malam itu begitu sejuk terasa dalam batin Dessy dan suaminya. Sang suami bersyukur kepada Allah Swt sambil menitikkan air mata bahagia, sedang Dessy menengadahkan wajah dan kedua tangannya sambil memanjatkan doa dengan suara yang terpendam dalam dada.

Dessy sampaikan kepada Allah, Tuhannya:
“Ya Allah…., hingga kini aku belum merasakan keagungan dan kehebatanMu…
Andai betul Engkau adalah Tuhanku Yang Maha Kuasa…, mohon kiranya Engkau membuat rumah ini laku terjual!”

Demikianlah doa yang dipanjatkan Dessy malam itu kepada Tuhannya. Sebuah doa dari hamba yang lemah yang ingin menguji kekuasaan dan keperkasaan Allah Swt.

Saya terperanjat mendengar tutur doa yang pernah Dessy panjatkan. Saya bertanya kepada Dessy apakah rumah itu kemudian laku terjual? Maka Dessy pun melanjutkan kisahnya………

Sudah 7 bulan yang lalu rumah yang ia diami saat itu pernah diiklankan untuk dijual. Berhari-hari, berminggu-minggu bahkan lebih dari itu Dessy dan suaminya memasarkan rumah mereka di berbagai media.

Namun sayang tidak ada satu pun respon positif dari iklan yang dipasang. “Jangankan melihat lokasi, telefon masuk pun yang menanyakan rumah tidak ada” jelas Dessy singkat.

“Kami pun menyadari bahwa memang rumah kami sulit untuk dijual. Sebab lokasi rumah itu di lingkungan warga keturunan yang masih begitu percaya hoki dan feng shui. Ditambah lagi bentuk tanah rumah kami miring. Apalagi nomor rumah kami adalah 4 (empat) yang berarti mati dan membawa sial. Kami sudah putus asa menjual rumah itu, hingga kami berhenti beriklan” jelas Dessy.

Saat suami Dessy meyakinkannya untuk kembali memeluk Islam dan bercerita akan keagungan Allah. Maka Dessy pun ingin menguji kebenaran dari kuasa Allah Swt itu. Sebab itu Dessy berdoa dengan redaksi di atas. Sebuah doa yang menantang kekuasaan Allah Ta’ala.

“Terus bagaimana kelanjutan kisahnya, bu….?” tanya saya tak sabar. Maka Dessy pun melanjutkan kisahnya:
Seperti rutinitas harian yang Dessy kerjakan maka pagi itu ia berangkat ke toko miliknya.
Sepanjang hari Dessy menanti ijabah dari Allah Swt atas doa yang ia panjatkan. Namun hingga sore hari masih belum ada pertanda akan datangnya ijabah doa itu.

Ba’da Ashar suami Dessy datang menjemput. Saat baru saja tiba Dessy langsung bertanya penuh harap kepadanya, “Apakah ada orang yang datang menanyakan rumah, Pa?!” Sang suami malah balik bertanya, “Memangnya apakah kamu pasang iklan kemarin?!” Dessy menjawab, “Tidak!” “Ngawur kamu, Ma….
Masak tidak pasang iklan terus berharap ada orang yang datang menanyakan rumah!!!” Dessy tidak membalas kalimat terakhir dari mulut suaminya, namun ia membatin, “Ya Allah, rupanya Engkau tidak berkuasa seperti yang aku harapkan!”
Tak lama setelah itu Dessy dan suaminya kembali pulang ke rumah.

Saat itu kira-kira pukul setengah lima sore. Dessy dan suaminya baru tiba di rumah. Mereka tengah berada di kamar dan baru saja berganti pakaian. Mereka saling bertukar cerita dan pengalaman yang mereka lalui hari itu. Dalam perbincangan mereka di kamar saat itu, tiba-tiba mereka berdua mendengar ada suara seorang perempuan asing mengucapkan salam di luar rumah.

Dessy mengintip lewat jendela. Di sana ada seorang wanita berjilbab panjang dengan warna muram. Sekilas Dessy menyangka bahwa perempuan itu pasti datang untuk meminta sumbangan. Dessy keluar dari kamar dan ia berpesan kepada pembantunya untuk memberi infak bila perempuan di luar sana meminta sumbangan. Usai berpesan Dessy pun kembali ke dalam kamar.

Pintu kamar kemudian diketuk oleh sang pembantu dan Dessy pun keluar. “Bu…, perempuan di luar tadi katanya datang mau melihat rumah” jelas sang pembantu. Deggg….! sontak Dessy terperanjat. Tak percaya akan berita yang didengarnya, maka Dessy bergegas untuk membukakan pintu bagi tamunya. “Wajah tamu itu begitu sumringah….” papar Dessy. “Setiap kali ditunjukkan sebuah bagian ruang dari rumah kami, ia selalu bertasbih menyebut nama Allah dan kegirangan” imbuhnya lagi.

Ia menyatakan tertarik dengan rumah Dessy dan menanyakan berapa harga yang diminta. Di luar dugaan Dessy sang tamu tidak hanya setuju dengan harga yang disebutkan, bahkan wanita itu mengajaknya untuk pergi ke notaris keesokan paginya untuk transaksi jual-beli rumah. SUBHANALLAH….!

Dessy kegirangan sore itu dan malam harinya ia bermunajat kepada Allah untuk menyampaikan rasa syukurnya atas ijabah doa yang Allah Swt berikan.
Esok paginya ia datang ke notaris bersama suami dan ibu calon pembeli rumah. Akte jual-beli rumah sudah diselesaikan dan proses akad tersebut begitu mudah dan cepat.
Wajah Dessy begitu sumringah, dan dalam obrolan di kantor notaris itu Dessy sempat bertanya kepada ibu yang membeli rumahnya, “Bu…, apa yang membuat ibu tertarik dengan rumah kami dan darimana ibu mencari infonya?”

Sang ibu pembeli rumah menjawab, “Saya memang sudah lama mencari rumah di daerah Kelapa Gading, Jakarta. Namun belum ketemu jodohnya barangkali. 2 malam yang lalu sehabis shalat Isya saya merasa kegerahan di dalam rumah. Sambil ngobrol dengan suami di teras rumah, maka saya ambil setumpuk koran lama di meja yang ada di teras untuk kipasan.

Lagi asyik ngobrol eh… tiba-tiba saya melihat ada sebuah iklan baris yang menjual rumah di daerah Kelapa Gading. Melihat ukuran rumah dan harganya kok sepertinya cocok betul dengan rumah yang saya cari.

Maka keesokan harinya saya baru datang ke rumah bapak-ibu.”
Mendapati penjelasan sang ibu pembeli, Dessy menjadi terkesima dan melongo. Ia seolah tak percaya akan apa yang didengarnya.

Sekali lagi Dessy menegaskan, “Dua malam yang lalu ibu membaca iklan baris itu?! Koran itu terbitan tanggal berapa dan pukul berapa ibu berada di teras rumah sambil kipas-kipasan?!”
“Gak tahu ya bu tanggal berapa koran tersebut tapi rasanya mungkin 7 bulan lalu itu koran.
Sementara kalau waktu saya ngobrol dengan suami di beranda rumah saat itu mungkin kira-kira pukul 7 malam mungkin ya…” jawab sang ibu pembeli ringan.
“ALLAHU AKBAR….!” Dessy memekik. Ia terdiam sejenak dan tak sanggup berkata apa-apa.

Beberapa bulir air mata kini menitik di pipinya. Sang suami dan ibu pembeli rumah bertanya apa gerangan yang terjadi. Lama Dessy terdiam. Tak sanggup ia mengangkat wajah. Setelah agak tenang Dessy menjelaskan bahwa 2 malam yang lalu ia shalat Isya bersama suami setelah sekian lama ia murtaddah.

Ia ceritakan kepada semua yang hadir di ruangan notaris itu bahwa malam itu ia berdoa dengan redaksi menantang kekuasaan Allah SWT.

Sungguh diluar jangkauan pikiran Dessy bahwa kalimat-kalimat doa itu rupanya naik menghadap Allah Swt, dan pada saat yang sama Allah Swt menjawab doanya dengan memberikan pantulan sinar pada tumpukan koran lama yang ada di beranda rumah ibu pembeli. Ibu pembeli rumah lalu merasa kegerahan dan Allah Swt menggerakkan tangannya untuk mengambil koran lama untuk dibuat kipas. Maka iklan rumah yang berbulan-bulan itu akhirnya menemui calon pembelinya. SUBHANALLAH!

Dalam ruangan notaris itu Dessy berikrar bahwa kini ia tidak ragu lagi terhadap Allah Swt Tuhan Yang Maha Esa. Sungguh, keagungan Allah Swt amat menakjubkan.

Apakah Anda merasakannya?

#AllahMencintaimu

Kata Usbob Lainnya